Sejarawan: Secara Psikologis, Jokowi Ingin Menempatkan Dirinya Sebagai Raja

Politik959 Dilihat

Menurutnya, Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden bukan dalam situasi yang represif. Meski demikian, lanjut Anhar, yang dilakukan Jokowi dalam menarik simpati masyarakat dengan melakukan melempar baju atau kaos kepada masyarakat setiap kali mengunjungi.

“Sering melihat Jokowi lempar kaos ke masyarakat, itu cara raja-raja. Dulu disukai dan disenangi rakyat. Itu hebatnya Jokowi, dia secara psikologis dan historis cara raja-raja mencari simpati rakyatnya. Rakyat menyenangi seorang pemimpin, tampaknya Jokowi memahami itu. Jokowi ke pasar atau jalan bukan sekedar jalan-jalan tapi memiliki makna psikologis dari dia menempatkan sebagai raja,”tandas Anhar.

Dia mengatakan, antara Megawati dan Jokowi sebagai pemimpin memiliki tantangan dan zaman yang berbeda. Karena itu Anhar enggan membandingkan keduanya.

“Jadi Kalau orang melihat Jokowi hebat, sebenarnya buat saya salah. Sesat pikir, karena dia diangkat jadi presiden dan dipilih oleh rakyat karena memang menjadi pemimpin. Jadi kalau dia gagal ya rakyat rugi. Jadi kalau orang menghebat beliau bagi saya gak hebat. Dalam arti memang dia dipilih oleh rakyat, untuk supaya memberikan sesuatu yang berubah dari kenyataan rakyatnya,”imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo mengemukakan, bahwa Megawati bukan tokoh politik yang punya komunikasi artikulatif, tapi lebih komunikasinya simbol dalam sindiran terhadap lawan-lawan politiknya.

Menurut Nurcahyo, dalam berkomunikasi lebih banyak Megawati “menyentil” seperti anaknya sendiri. Tahun lalu, pada hari ulang tahun PDIP komunikasi Megawati yang membuat tidak nyaman Jokowi sebagai Presden yang menyebut tanpa PDIP tidak mungkin seperti sekarang ini.

“Memang sudah tanda-tanda untuk disentil,”ucap Ari.

Lebih lanjut, Megawati mengatakan, sesebel apa pun kepada Megaeati. Namun, pada tahun 2014, Megawati masih memberikan kesempatan kepada Jokowi untuk maju pada Pemilihan Presiden pada 2014.

Pada Pemilu 2014, boarding pas bisa saja tidak diberikan kepada Jokowi. Sama hal, Pada Pilpres 2024, bisa saja tidak diberikan kapada Ganjar. Bisa saja dilakukan, tapi tidak dilakukan.

Dalam dimensi kekuasaan, menurut Ari, semua karakter kekuasaan ingin mengestafetkan kepemimpinan ke keturunannya. Seperti halnya Megawati ingin ke Puan Maharani, SBY ke Ahy, dan Surya Paloh ke Prananda Paloh.

“Dia ingin anaknya (Puan-red) masuk capres, tapi batasan elektabilitas itu tidak memaksakan anaknya dijadikan Capres. Sebaliknya diberikan kepada Ganjar.”ujar Ari.

Ari mengatakan, dua periode Jokowi memimpin ada capaian pembangunan yang dicapai. Namun, sayangnya pada tahun ke 9, sayangnya Jokowi membajak demokarasi dan membangkang konstitusi.

“Ada yang menarik dalam diri Megawati lebih mengembangkan politik secara benar, bukan politik dagang sapi. Megawati tetap memegang prinsip kebenaran bisa saja kalah, tapi kebenaran tidak bisa salah,”ujarnya. (dav)

Komentar